Tampilkan postingan dengan label pupuk organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pupuk organik. Tampilkan semua postingan

TENTANG PUPUK MIKROBA

Pupuk mikroba adalah formulasi inokulum mikroba yang dapat menambah/meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah misalnya penambat N, mikroba pelarut P, mikroba dekomposer. Untuk menjamin efektivitas penggunaannya, produk pupuk mikroba harus disertai sertifikat jaminan mutu dan dalam label dicantumkan cara penggunaan, penyimpanan serta mutu hasilnya.

Pupuk mikroba hendaknya disertai masa berlaku dan saat kadaluwarsa. Persyaratan mutu inokulum mikroba adalah apabila populasi mikroba berkisar antara 106 - 109 sel setiap gram atau setiap mililiter.

Sumber: Balai Penelitian Tanah, Kementerian Pertanian, Bogor

INDONESIA BUTUH PUPUK ORGANIK DALAM JUMLAH BESAR


Indonesia sangat membutuhkan pupuk organik. Hal ini ditegaskan oleh Ir. Wahyu, Ketua Asosiasi Produsen Pupuk Organik dan Hayati dalam workshop “Kiat Sukses Investasi Pupuk” yang diselanggarakan di Hotel Bidakara Jakarta, 22 Februari 2011 yang lalu. Pasalnya kondisi tanah di Indonesia sebagian besar sudah rusak akibat penggunaan pupuk kimia secara intensif.

"Saat ini kandungan organic tanah kurang dari 5 persen, bahkan di beberapa wilayah sudah kurang dari 2 persen. Hal ini mengakibatkan beberapa tahun ke depan peningkatkan produksi pertanian secara signifikan akan sulit dicapai. Jadi pemberian pupuk organik adalah solusi yang krusial untuk memperbaiki kondisi tanah yang kedepan akan semakin rusak akibat aktivitas pertanian" tegasnya.

Menurut Wahyu sebaiknya perbaikan kondisi tanah ini menjadi tugas pemerintah. Karena jika tidak, Indonesia akan mengalami kemorosotan produksi pertanian secara nasional. Oleh sebab itu pemberian bantuan pupuk organic adalah program yang harus terus dilakukan dan dilanjutnya”, ungkapnya.

Pendapat ini juga didukung oleh Dr. Ir. Pujiyanto, M.Sc, peneliti senior dari Puslitkoka.

“ Untuk mendapatkan produktivitas kakao di atas 1 ton Anda masih mencapainya hanya dengan menggunakan pupuk anorganik. Namun untuk mencapai produksi 2 ton, wajib hukumnya menggunakan pupuk organic. Karena tingkat produksi tersebut hanya mungkin dengan kandungan organic di atas 5 persen” ungkapnya.

Hanya saja, ditambahkannya, untuk kondisi saat ini, mencapai tingkat organic 5 % dibutuhkan penggunaan pupuk organic dalam jumlah besar. Dan membutuhkan cost yang cukup besar.

Oleh sebab itu pupuk organic menjadi hal yang cukup esensial bagi peningkatkan produksi pertanian di Indonesia. Sehingga kebutuhan akan pupuk organik di masa yang akan datang akan meningkat secara signifikan.

Tingginya kebutuhan pupuk organik di Indonesia juga terlihat dari pertambahan pupuk organik yang terdaftar melalui Pusat Perizinan di Kementerian Pertanian. Menurut Ir. Gayatri Karyawati Rana, Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian, jumlah pupuk organic yang terdaftar di kementerian Pertanian meningkatkan dalam beberapa tahun ini.

Hanya saja masih banyak pupuk yang belum terdaftar sehingga kualitasnya tidak terjamin.

“Oleh sebab itu meskipun kebutuhan pupuk organik di masyarakat tinggi, tetap saja pemerintah melakukan pengawasan intensif. Salah satunya adalah dengan mewajibkan seluruh pupuk yang ada dimasyarakat harus memiliki izin edar”, tegasnya.

Organo-TRIBAPlus (OT3) PUPUK ORGANIK GENERASI BARU DARI MEORI AGRO (SOLUSI PERTANIAN ORGANIK)

Hampir semua lahan pertanian dan perkebunan di Indonesia telah digunakan selama bertahun-tahun miskin akan bahan organic dan mikroorganisme berguna, sehingga berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah , produktivitas dan kesehatan tanaman. Akibatnya biaya produksi tinggi dan tidak menguntunkan petani.

Organo-TRIBA Plus , adalah pupuk organik dari bahan pilihan yang diproses dengan metoda fermentasi menggunakan mikroorganisme berguna yaitu Bacillus pantotkentikus, Trichoderma lactae dan Bacillus firmus sebagai activator, mengandung humus, protein, enzim dan mikroorganism berguna. Organo TRIBA Plus pupuk organik ramah lingkungan sangat cocok digunakan dalam pertanian organic dapat meningkat produksi dan kwalitas tanaman.

Manfaat
Menggurangi penggunaan pupuk organik dan an organik sebanyak 25 – 75 % dari dosis anjuran

Meningkatkan ketersediaan hara dan efisiensi pemupukan serta kesehatan tanaman,

Meningkatkan populasi mikroorganisme berguna dalam tanah dan menekan populasi patogen tanah di rizosfera.

Meningkatkan kemampuan tanah dalam memegang air dan kelembaban tanah.

Mengembalikan dan mempertahankan kesuburan tanah, lebih gembur sehinga airasi lebih baik. Menekan dan mengendalian beberapa patogen tular tanah pada tanaman.

Solusi untuk mengatasi ketersediaan pupuk dan rama linkungan.

Keunggulan
Mengandung hara lengkap(unsur makro dan mikro) serta mengandung beberapa mikrrorganisme yang dapat meningkatkan kesuburan lahan.

Bersifat soil regerator dan conditioner mengandung beberapa mikroorganisme berguna (Bacillus, Trichoderma, Azotobacter, Penicillium dan P. fluorescens) sehingga meningkatkan daya dukung lahan

Menngkatkan efiktivitas penyerapan unsur hara oleh tanaman. Peningkatan aktivitas mikroba berguna dalam tanah akan meningkatkan produksi hormon dan zat penagtur tumbuh yang sangat diperluka oleh tanaman.

Bebas dari patogen berbahaya bagi tanaman. Mengandung beberapa ezim dan metababolik sekunder.

Berbentuk serbuk halus sehingga mudah dan praktis dalam aplikasi.

Penggunaan
Organo-Triba dapat digunakan dipembibitan dan lapangan pada tanaman perkebunan, sayur-sayuranan, pangan, bunga dan horikultura. Dosis yang digunakan adalah 50% dari dosis anjuran untuk masing-masing tanaman dan jika digunakan bersama-sama dengan pupuk hayati termasuk BioTRIBA makan penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi 25 – 50%.

Tanaman Perkebunan : (1) Bibit : 40 – 60 g/bbt, (2) TBM : 200 – 400 gr/tan/thn, (3) TM : 500 – 1000g/phn/thn.

Tanaman Pangan : 100 – 300 kg/ha/musim

Tanaman Sayuran : 300 – 500 kg/ha/musim

Tanaman Hortikultura : (1) Bibit 50 – 100 gr/bbt, (TBM) : 200 – 400 gr/phn/thn (3) TM : 400 – 800 kg/thn/ha

Sumber: Bio-Fob

APAKAH PUPUK ORGANIK BERDAMPAK SIGNIFIKAN?

Pengaruh penggunaan pupuk organik/blotong di salah satu PG di Jawa Tengah terhadap produktivitas tebu sekitar 695 kwintal/ha dengan rata-rata rendeman 8,6 %. Pupuk organik tersebut mempunyai peran yang sama dengan pupuk an-organik sebagai pupuk dasar.

Hasil penelitian di Riau menunjukkan bahwa aplikasi 40 ton TKS/ha pada tanah ditambah aplikasi pupuk N dan P sebesar 60% dosis standar kebun mampu meningkatkan produksi hingga 34% dibanding pemakaian pupuk anorganik dengan dosis standar kebun (Siahaan et al. 1997). Hal tersebut berarti terdapat pengurangan pupuk N dan P hingga 40% tanpa aplikasi pupuk K.

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa pupuk organik berdampak sangat signifikan bagi tanaman dan dapat digunakan untuk mengurangi penggunana pupuk anorganik.

TEKNIK PEMBUATAN PUPUK KOMPOS

Teknik pembuatan kompos Bio-TRIBA secara prinsif tidak jauh berbeda cara-cara kompos yang lain :

1. Bahan yang dapat digunakan al : pupuk kandang, jerami, arang sekam, dedak, serbuk gergaji, cocopit residu tanaman, limbah pasar , limbah rumah tangga dan limbah organic lainnya.

2. Bahan tersebut dihaluskan/dicacah dengan mesin kompos atau alat lainnya yang tersedia dikebun seperti parang parang terutama bahan tanaman seperti jerami, residu tanaman.

3. Setelah dihaluskan bahan tersebut ditumpuk secara beraturan contoh, jerami + serbuk gergaji + residu tanaman + kotoran hewan. Setelah tumpukan itu mencapai 25 – 30 cm selanjutnya disiram dengan larutan BioTRIBA. Diatas tumpukan tadi selanjutnya disusun lagi setinggi 25 – 30 cm dan disiram lagi dengan BioTRIBA, sampai mencapai ketinggiaan 1 – 1,2 m, kemudiaan ditutup dengan terpal atau sejenisnya.

4. Jumlah BioTRIBA yang digunakan ádalah 2 – 3 l/ton bahan mentah yang akan dikomposkan Untuk memperoleh larutan Bio-TRIBA maka BioTRIBA yang terdapat dalam botol/kemasan + air dicampur merata dosis 10 – 50 ml/l (tergantung pada kadar air bahan yang digunakan), makin basah bahan yang akan digunakan maka dosis yang digunakan makin tinggi atau jumlah air yang digunakan sebagai bahan pencampur lebih sedikit.

5. Bahan baku yang telah tersedia disiram larutan larutan BioTRIBA. Pencampuran dilakukan perlahan-lahan dan merata hingga kandungan air ± 30-40 %. Kandungan air yang diinginkan diuji dengan menggenggam bahan. Kandungan air 30-40 % ditandai dengan tidak menetesnya air bila bahan digenggam dan akan mekar bila genggaman dilepaskan.

6. Bahan yang telah dicampur tersebut diletakkan di atas tempat yang kering atau dapat juga dimasukkan ke dalam ember atau karung. Bila diletakkan di lantai, bahan sebaiknya ditumpuk secara teratur. Tumpukan bahan umumnya dapat setinggi 1 - 1,2 m. Setelah itu, tumpukan bahan ditutup dengan plastic, karung goni atau terpal.

7. Suhu tumpukan secara bertahap akan meningkat dari 25 C, 30C, 40C sampai mencapai 50 – 60 C proses ini berlangsung selama 5 – 8 hari ( tergantung tinggi tumpukan dan kehalusan bahan).

8. Selanjutnya secara bertahap suhu akan turun kembali sampai mencapai normal. Apabila suhu sudah stabil( berkisar 25 – 30 C), maka proses pengomposan telah selesai Lama proses fermentasi ini berlangsung tergantung bahan yang digunakan yaitu berkisar 1 – 3 minggu.

9. Setelah bahan menjadi kompos, maka penutup seperti plastic, terpal, karung goni dapat dibuka. Pupuk oraganikTRIBA ini dicirikan dengan warna hitam, gembur, tidak panas dan tidak berbau. Dalam kondisi seperti itu, kompos BioTRIBA telah dapat digunakan sebagai pupuk.

BEBERAPA KENDALA PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK DI LAPANGAN


Ada berapa masalah terkait dengan penyediaan pupuk organik

Pertama, Kadar haranya rendah sehingga bulky dan jika diaplikasikan memerlukan biaya transport yang cukup tinggi.. Oleh karena itu pupuk organik perlu dikembangkan di berbagai daerah sehingga biaya distribusinya dapat ditekan.

Kedua, sehubungan dengan sifatnya bulky perlu dilakukan riset-riset menuju riset nano-technology sehingga mengarahkan pada . pemberian pupuk organik dalam volume yang tidak bulky . seperti asam humat dan asam fulvat dan lain-lain.

Ketiga, butir yang penting dari istilah komplementer pupuk organik dengan pupuk anorganik adalah bagaimana peranan pupuk organik dalam meningkatkan efektivitas hara anorganik. Keduanya dibutuhkan, perbandingan tergantung kondis i tanah dan kebutuhan tanaman dalam prinsip "pupuk berimbang plus" yang berarti tidak hanya dalam hal hara, tertapi juga dalam kadar C organik tanah.

Kelemahan atau kekurangan unsur hara pupuk organik untuk penggunaan spesifik pertanian organik, jangan sampai menjadi preseden untuk menambahkan mineral anorganik dan, sebagainya.

Hal ini tentu perlu menjadi perhatian bagi para produsen benih terkait adanya masalah tersebut. Sehingga keualitas pupuk organic ke depan dapat ditingkatkan.

Potensi Pemanfaatan Limbah Perkebunan Menjadi Pupuk Organik

Sebagian besar limbah perkebunan seperti kulit buah kakao, kulit buah kopi, buah semu jambu mete, pelepah dan tandan kosong kelapa sawit, limbah tebu, pelepah dan limbah sabut kelapa merupakan bio-massa yang sangat berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah dan memperbaiki struktur tanah secara alami.

Rendahnya kandungan bahan organik tanah di perkebunan disebabkan oleh ketidakseimbangan antara penambahan dan hilangnya bahan organik dari tanah utamanya melalui proses oksidasi biologis dalam tanah, sehingga perlu dilakukan untuk peningkatan kandungan bahan organik tanah melalui pemberian pupuk organik.
Produksi limbah perkebunan diperkirakan setiap tahunnya cukup besar. Perkiraan potensi limbah beberapa komoditi perkebunan sebagai bahan baku pupuk organik dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Potensi pemanfaatan limbah komoditi perkebunan seperti pada tabel di atas dapat dijabarkan sebagai berikut :

Kakao
Komponen utama dari buah kakao adalah kulit buah, plasenta, dan biji. Kulit buah merupakan komponen terbesar dari buah kakao, yaitu lebih dari 70% berat buah masak. Persentase biji kakao di dalam buah hanya sekitar 27-29%, sedangkan sisanya adalah plasenta yang merupakan pengikat dari 30 sampai 40 biji [Widyotomo et al., 2004b].

Pada areal 1(satu) hektar pertanaman kakao akan menghasilkan limbah segar kulit buah sekitar 5,8 ton setara dengan produk tepung limbah 812 kg. Potensi limbah kulit buah kakao dari suatu pabrik pengolahan kakao sebesar 15-22 m3/ha/tahun. Limbah kulit buah kakao tersebut merupakan sumber bahan baku [biomassa] yang sangat potensial sebagai sumber bahan baku pupuk organik [Sri Mulato et al., 2005].

Kopi

Pengolahan kopi secara basah akan menghasilkan limbah padat berupa kulit buah pada proses pengupasan buah (pulping) dan kulit tanduk pada saat penggerbusan (hulling). Limbah padat kulit buah kopi (pulp) belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki kadar bahan organik dan unsur hara yang memungkinkan untuk memperbaiiki tanah.

Hasil penelitian Puslitkoka, menunjukkan bahwa kadar C-organik kulit buah kopi adalah 45,3 %, kadar nitrogen 2,98 %, fosfor 0,18 % dan kalium 2,26 %. Selain itu kulit buah kopi juga mengandung unsur Ca, Mg, Mn, Fe, Cu dan Zn. Dalam 1 ha areal pertanaman kopi akan memproduksi limbah segar sekitar 1,8 ton setara dengan produksi tepung limbah 630 kg.

Kelapa Sawit
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi andalan Indonesia yang perkembangannya sangat pesat. Selain produksi minyak kelapa sawit yang tinggi, produk samping atau limbah pabrik kelapa sawit juga tinggi. Secara umum limbah dari pabrik kelapa sawit terdiri atas tiga macam yaitu limbah cair, padat dan gas.

Limbah cair pabrik kelapa sawit berasal dari unit proses pengukusan (sterilisasi), proses klarifikasi dan buangan dari hidrosiklon. Pada umumnya, limbah cair industri kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi sehingga potensial mencemari air tanah dan badan air.

Sedangkan limbah padat pabrik kelapa sawit dikelompokan menjadi dua yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dan yang berasal dari basis pengolahan limbah cair. Limbah padat yang berasal dari proses pengolahan berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), cangkang atau tempurung, serabut atau serat, sludge atau lumpur, dan bungkil. TKKS dan lumpur yang tidak tertangani menyebabkan bau busuk, tempat bersarangnya serangga lalat dan potensial menghasilkan air lindi (leachate).

Limbah padat yang berasal dari pengolahan limbah cair berupa lumpur aktif yang terbawa oleh hasil pengolahan air limbah. Kandungan unsur hara kompos yang berasal dari limbah kelapa sawit sekitar 0,4 % (N), 0,029 sampai 0,05 % (P2O5), 0,15 sampai 0,2 % (K2O). Dalam 1 ha areal pertanaman kelapa sawit akan dihasilkan limbah sekitar 22 ton limbah pelepah kelapa sawit dan sedangkan dari limbah Tandan Kosong Sawit (TKS) dihasilkan 6,75 ton limbah TKS.

Pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit dari kolam anaerobik sekunder dengan BOD 3.500-5000 mg/liter yang dapat menyumbangkan unsur hara terutama N dan K, bahan organik, dan sumber air terutama pada musim kemarau. Setiap pengolahan 1 ton TBS akan menghasilkan limbah pada berupa tandan kosong sawit (TKS) sebanyak 200-250 kg, sedangkan untuk setiap produksi 1 ton minyak sawit mentah (MSM) akan menghasilkan 0,6-0,7 ton limbah cair dengan BOD 20.000-60.000 mg/liter.

Kandungan hara limbah cair PKS adalah 450 mg N/l, 80 mg P/l, 1.250 mg K/l dan 215 mg/l. Sistem aplikasi limbah cair dapat dilakukan dengan system sprinkle (air memancar), flatbed (melalui pipa ke bak-bak distribusi ke parit sekunder), longbed (ke parit yang lurus dan berliku-liku) dan traktor tanki (pengangkutan limbah cair dari IPAL/Instalasi Pengolah Air Limbah) ke areal tanam.

Sumber: Dit. Perbenihan dan Sarana Produksi

POTENSI PEMANFAATAN LIMBAH SAWIT UNTUK PUPUK ORGANIK


Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi andalan Indonesia yang perkembangannya sangat pesat. Selain produksi minyak kelapa sawit yang tinggi, produk samping atau limbah pabrik kelapa sawit juga tinggi. Secara umum limbah dari pabrik kelapa sawit terdiri atas tiga macam yaitu limbah cair, padat dan gas.

Limbah cair pabrik kelapa sawit berasal dari unit proses pengukusan (sterilisasi), proses klarifikasi dan buangan dari hidrosiklon. Pada umumnya, limbah cair industri kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi sehingga potensial mencemari air tanah dan badan air.

Sedangkan limbah padat pabrik kelapa sawit dikelompokan menjadi dua yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dan yang berasal dari basis pengolahan limbah cair. Limbah padat yang berasal dari proses pengolahan berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), cangkang atau tempurung, serabut atau serat, sludge atau lumpur, dan bungkil. TKKS dan lumpur yang tidak tertangani menyebabkan bau busuk, tempat bersarangnya serangga lalat dan potensial menghasilkan air lindi (leachate).

Limbah padat yang berasal dari pengolahan limbah cair berupa lumpur aktif yang terbawa oleh hasil pengolahan air limbah. Kandungan unsur hara kompos yang berasal dari limbah kelapa sawit sekitar 0,4 % (N), 0,029 sampai 0,05 % (P2O5), 0,15 sampai 0,2 % (K2O). Dalam 1 ha areal pertanaman kelapa sawit akan dihasilkan limbah sekitar 22 ton limbah pelepah kelapa sawit dan sedangkan dari limbah Tandan Kosong Sawit (TKS) dihasilkan 6,75 ton limbah TKS.

Pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit dari kolam anaerobik sekunder dengan BOD 3.500-5000 mg/liter yang dapat menyumbangkan unsur hara terutama N dan K, bahan organik, dan sumber air terutama pada musim kemarau. Setiap pengolahan 1 ton TBS akan menghasilkan limbah pada berupa tandan kosong sawit (TKS) sebanyak 200-250 kg, sedangkan untuk setiap produksi 1 ton minyak sawit mentah (MSM) akan menghasilkan 0,6-0,7 ton limbah cair dengan BOD 20.000-60.000 mg/liter.

Kandungan hara limbah cair PKS adalah 450 mg N/l, 80 mg P/l, 1.250 mg K/l dan 215 mg/l. Sistem aplikasi limbah cair dapat dilakukan dengan system sprinkle (air memancar), flatbed (melalui pipa ke bak-bak distribusi ke parit sekunder), longbed (ke parit yang lurus dan berliku-liku) dan traktor tanki (pengangkutan limbah cair dari IPAL/Instalasi Pengolah Air Limbah) ke areal tanam.

Disadur dari tulisan "Potensi Pemanfaatan Limbah Perkebunan Menjadi Pupuk Organik" dari Dit. Perbenihan dan Sarana Produksi

BUKU KOMPOS BIOPESTISIDA



Anda ingin memproduksi kompos sendiri?

Buku ini layak Anda baca. Namun bukan “ Kompos biasa” melainkan kompos yang bisa berfungsi sebagai biopestisida yang disebut BioTRIBA

Pada dasarnya BioTRIBa adalah kompos yang dihasilkan dengan memanfaatkan mikoorganisme yang mampu meningkatkan daya fungsi dan hasil dari BioTRIBA. BioTRIBA tidak hanya mampu menyuburkan tanah dan tanaman, meningkatkan hasil tanaman, namun juga bisa memberantas patogen-patogen tanaman yang berbahaya.

Disamping penggunaan cenderung lebih hemat dan efesiensi dibandingkan dengan penggunaan kompos biasa ataupun pupuk kandang, pembuatannya pun relatif mudah dan murah.

Keunggulan BioTRIBA itulan yang mengantarkan penulis, pada tahun 2006 mendapatkan penghargaan secara langsung dari Presiden SBY sebagai “ Peneliti Berprestasi dalam Melaksanakan Penelitian yang Berkualitas Mendukung Ketahanan Pangan”.

Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung, dsb.

Sumber: www.biofob.blogspot.com

APA ITU PUPUK HAYATI ?


Pupuk hayati kini banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. Namun, pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya.

Pupuk hayati atau lebih dikenal telah banyak beredar di pasaran, dan di beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. R.130.760.11.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif

Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen, pelarut, atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji, tanah, atau ketempat pengomposan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara, sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan haraoleh tanaman, menekan soil-borne disease, mempercepat proses pengomposan, memperbaiki struktur tanah, dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Di Indonesia, mikroorganisme telah lama dimanfaatkan, terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional, dan juga pada minuman. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi, menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat, selain digunakan dalam proses fermentai secara tradisional.

Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar, biakan cair, biakan kering, biakan kering beku, dan tepung. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung.

Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Sebagai bahan pembawa inokulan tepung, dapat digunakan bahan organik seperti gambut, arang, sekam, dan kompos. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit, vermikulit, atau zeolit.

Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. Namun, sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis, artinya mikroorganisme yang terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani.

Salahsatu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumny lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. Dengan mempertahankan kelembaban, kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi, gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme, baik berupa bakteri maupun jamur.

Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium, inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh, karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung.

Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba, maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah, jenis, dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran.

Pada pengujian pupuk mikroba, perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme, tanggal kadaluwarsa, cara penyimpanan, seta jenis tanaman yang cocok. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun, tetapkan kelembapan bahan pembawa, dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut.

Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan, Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. Di Indonesia, sampain saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium, sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Mulai tahun 2004, Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran.

Sumber: Warta Pertanian

STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS PUPUK ORGANIK

Beberapa kendala penggunaan kualitas kompos/pupuk organik adalah sifatnya yang bulky, kandungan air yang cukup tinggi dan kandungan hara yang rendah. Kompos biasanya diberikan dalam jumlah yang cukup banyak agar dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman. Kendala-kendala tersebut berakibat pada besarnya biaya untuk pembelian/pembuatan kompos, biaya tranportasi, dan biaya aplikasi/tenaga kerja.

Beberapa strategi dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas kompos/pupuk organik. Kompos diolah terlebih dahulu setelah panen sebelum diaplikasikan. Pengolahan paska panen kompos antara lain adalah pengeringan dan pencacahan. Apabila diperlukan dapat pula dilakukan pengayakan dan pengemasan.

Kompos yang baru di panen memiliki kadar air sangat tinggi, yaitu berkisar antara 60 – 70%. Kadar air ini meningkat pada musin penghujan. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara penyemuran di bawah sinar matahari.

Kompos yang sudah jadi dibuka penutupnya dan dijemur selama beberapa hari sebelum dipanen. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pengering (rotary dryer). Pengeringan dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Pengeringan hingga kadar air ± 40% sudah cukup baik untuk mengurangi volume kompos dan biaya transportasi maupun aplikasi.

Kompos yang sudah kering selanjutnya dapat dicacah dengan menggunakan mesin pencacah. Pencacahan ini juga akan mengurangi volume kompos dan menyamakan ukuran/bentuk kompos. Kompos yang sudah kering dan dicacah lebih mudah untuk dikemas dan diangkut.

Kandungan hara kompos yang rendah dapat diatasi dengan menambahkan bahan-bahan lain yang kaya hara. Beberapa produsen pupuk organik mem-blending kompos dengan pupuk kimia buatan untuk meningkatkan kandungan hara kompos. Penambahan pupuk organik dengan kompos ada batasnya, khususnya untuk Urea.

Bahan-bahan lain yang dapat digunakan untuk memperkaya kompos antara lain adalah fosfat alam atau limbah resipren karet untuk hara P dan dolomite untuk hara Mg. Pupuk kandang juga biasa ditambahkan ke dalam kompos.

Mikroba biofertilizer yang memiliki manfaat positif bagi tanaman dapat ditambahkan ke dalam kompos. Kandungan hara organik di dalam kompos akan berperan sebagai tempat hidup dan makanan bagi mikroba biofertilizer.

Mikroba-mikroba tersebut berfungsi sebagai penambat N dari udara, melarutkan P, membantu penyerapan hara, merangsang pertumbuhan tanaman, dan membantu mengatasi serangan penyakit.

Mikroba dapat ditambahkan pada saat pembuatan kompos yaitu mikroba yang tahan terhadap suhu kompos yang tinggi, maupun ditambahkan setelah kompos matang.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penambahan mikroba ke dalam kompos memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan maupun produksi tanaman.

Pengeringan dan pencacahan kompos dapat mengurangi volume kompos yang diaplikasikan ke tanaman. Sebagai contoh, dosis kompos 60kg/ph/tahun dengan kadar air 60%. Apabila kadar air diturunkan menjadi 40%, volume kompos yang diberikan sebesar 40kg/ph/th.

Semakin rendah kadar air akan semakin sedikit volume kompos yang dapat diaplikasikan. Pengurangan volume ini sangat signifikan mengurangi biaya transportasi dan biaya aplikasi kompos. (Darmono Taniwiryono & Isroi , Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia)

Syarat Pengurusan Izin Pupuk Organik

Gunakan Jasa Kami