BUKU KOMPOS BIOPESTISIDA



Anda ingin memproduksi kompos sendiri?

Buku ini layak Anda baca. Namun bukan “ Kompos biasa” melainkan kompos yang bisa berfungsi sebagai biopestisida yang disebut BioTRIBA

Pada dasarnya BioTRIBa adalah kompos yang dihasilkan dengan memanfaatkan mikoorganisme yang mampu meningkatkan daya fungsi dan hasil dari BioTRIBA. BioTRIBA tidak hanya mampu menyuburkan tanah dan tanaman, meningkatkan hasil tanaman, namun juga bisa memberantas patogen-patogen tanaman yang berbahaya.

Disamping penggunaan cenderung lebih hemat dan efesiensi dibandingkan dengan penggunaan kompos biasa ataupun pupuk kandang, pembuatannya pun relatif mudah dan murah.

Keunggulan BioTRIBA itulan yang mengantarkan penulis, pada tahun 2006 mendapatkan penghargaan secara langsung dari Presiden SBY sebagai “ Peneliti Berprestasi dalam Melaksanakan Penelitian yang Berkualitas Mendukung Ketahanan Pangan”.

Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung, dsb.

Sumber: www.biofob.blogspot.com

Pemupukan Tanaman Nilam

APA ITU PUPUK HAYATI ?


Pupuk hayati kini banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. Namun, pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya.

Pupuk hayati atau lebih dikenal telah banyak beredar di pasaran, dan di beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. R.130.760.11.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif

Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen, pelarut, atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji, tanah, atau ketempat pengomposan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara, sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan haraoleh tanaman, menekan soil-borne disease, mempercepat proses pengomposan, memperbaiki struktur tanah, dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Di Indonesia, mikroorganisme telah lama dimanfaatkan, terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional, dan juga pada minuman. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi, menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat, selain digunakan dalam proses fermentai secara tradisional.

Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar, biakan cair, biakan kering, biakan kering beku, dan tepung. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung.

Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Sebagai bahan pembawa inokulan tepung, dapat digunakan bahan organik seperti gambut, arang, sekam, dan kompos. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit, vermikulit, atau zeolit.

Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. Namun, sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis, artinya mikroorganisme yang terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani.

Salahsatu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumny lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. Dengan mempertahankan kelembaban, kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi, gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme, baik berupa bakteri maupun jamur.

Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium, inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh, karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung.

Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba, maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah, jenis, dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran.

Pada pengujian pupuk mikroba, perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme, tanggal kadaluwarsa, cara penyimpanan, seta jenis tanaman yang cocok. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun, tetapkan kelembapan bahan pembawa, dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut.

Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan, Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. Di Indonesia, sampain saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium, sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Mulai tahun 2004, Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran.

Sumber: Warta Pertanian

Kendala Utama dalam Pengurusan Izin Edar Pupuk

Tidak seluruh klien Brother Consultant yang bisa dengan mulus memperoleh izin edar dari Deptan. Bahkan banyak juga yang menghadapi kendala sejak awal pengurusan.

Adapun masalah yang paling sering muncul adalah terkait kandungan kimia dari pupuk yang diusulkan. Sampel diserahkan dan kemudian diuji ternyata tidak memenuhi standar minimal yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini terbukti dari tidak bisa melewati uji mutu.

Kendala ini muncul karena banyak pupuk diajukan dibuat secara otodidak. Atau tidak melibatkan formulator yang cukup ahli sehingga kualitas pupuknya menjadi rendah.

Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, bagi calon klien kami, sangat diharapkan untuk mempersiapkan sampel pupuk dengan baik. Idealnya didukung oleh formulator yang telah berpengalaman baik dari kalangan akademisi, peneliti atau praktisi.

Perlu diingat hasil pengujian dilapangan sebelumnya yang mungkin sangat memuaskan tidak bisa menjadi dasar untuk memuluskan perizinan pupuk. Melainkan berdasarkan hasil pengujian di laboratorium. Dan hasil uji di lapangan dengan metoda pembanding, untuk mengetahui apakah hasil dengan aplikasi pupuk yang diusulkan lebih baik dari perlakukan lain.

Untuk klien yang bermasalah dengan formula, kami tentunya akan menawarkan jasa konsultasi formulasi dengan “para pembina di Brother Consultan”. Dengan konsekuensi tambahan biaya konsultasi dan keterlambatan dalam pengurusan izin.

Oleh sebab itu calon klien yang akan melakukan pengurusan izin sebaiknya telah mempersiapkan sampel pupuk yang akan diusulkan dengan baik. Hal ini agar pengurusan izin dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

REKOMENDASI PEMUPUKAN TANAMAN KARET BELUM MENGHASILKAN

Di bawah ini adalah gambaran kebutuhan pupuk untuk tanaman karet sebelum menghasilkan berdasarkan rekomendasi Pusat Penelitian Karet.

Tata Cara Pengambilan Sampel Pupuk untuk Program Gernas Kakao

Pada program pembangunan perkebunan, khususnya Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional saat ini telah memasuki kegiatan penyediaan pupuk dan pestisida. Seringkali pupuk dan pestisida dalam perjalanannya berpotensi mengalami kerusakan struktur/bentuk sehingga berpengaruh terhadap mutu pupuk dan pestisida, atau bahkan kandungan hara dan formula pupuk dan bahan aktif pestisida tidak sesuai dengan yang tertera dalam label yang tercantum di kemasan.

Untuk itu sangat perlu dilakukan kegiatan pembinaan, pengawasan, monitoring dan evaluasi penyediaan pupuk dan pestisida, diantaranya melalui pengujian mutu contoh pupuk dan pestisida.

Tata Cara Pengambilan Sampel Pupuk dan Pestisida

Sumber: Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Perkebunan

PERANAN MIKROORGANSME SERBAGUNA DALAM PERTANIAN BERKELANJUTAN

Dunia pertanian saat ini dibebani oleh suatu tuntutan mendesak yaitu memenuhi kebutuhan pangan penduduk seluruh dunia. Sebagai usaha untuk mengatasi hal tersebut telah menjadi tuntutan bahwa usaha pertanian harus dapat memproduksi dalam jumlah yang cukup atau dapat melebihi kebutuhan dalam negeri sehingga dengan demikian dapat berperan sebagai penghasil devisa.

Untuk mencapai produksi tinggi berbagai asupan sarana produksi seperti pupuk, hormon untuk pertumbuhan atau pestisida banyak digunakan dalam usaha pertaniaan. Namun selain mahal, penggunaan sarana produksi tersebut seringkali dapat menimbulkan dampak negative. Untuk hal tersebut maka perlu dicari alternatif teknologi yang murah, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor abiotik dan biotik. Daerah sekitar perakaran (Rhizosphere) mempunyai kandungan nutrisi yang kaya karena kira-kira 40% hasil photosintesis hilang melalui akar. Hal tersebut menyebabkan banyaknya populasi mikroba sekitar rhizosphere. Sejumlah bakteri pada sekitar perakaran (Rhizobacteria) telah dilaporkan dalam berbagai hasil penelitian dapat berperan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman, meningkatkan ketahanan tanaman, menghasilkan hormon (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria, PGPR).

PGPR pertama kali dilaporkan oleh Joseph W. Kloepper dan Milton N. Scoth yang selain rhizobacteria juga termasuk bakteri tanah yang mengkolonisasi perakaran dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pada saat ini pengertian PGPR tidak hanya pada kelompok Bakteri tetapi juga pada kelompok Jamur sehinngga semakin meluas pengertian mengenai mikroorganisme pemacu pertum,buhan ; termasuk mikroba yang digunakan dalam pengendaliaan hayati (biocontrol), penyedia nutrisi (biofertilization) dan produksi hormon (Biostimulation).

Beberapa mikoorganisme telah dilaporkan mempunyai fungsi seperti telah digunakan dalam paket Teknologi BioFOB. seperti Bacilluis pantotkenticus, Trichoderma lactae dan Fusarium oxysporum non patogenik (Dr. Mesak Tombe)

Sumber: BioFob