Kebijakan perbaikan mekanisme penyaluran pupuk subsidi langsung ke petani bertujuan untuk menekan terjadinya penyimpangan penyaluran pupuk subsidi di lapangan. Badan Litbang Pertanian melalui Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Pertanian telah menyusun konsep Verifikasi/Rancangan Pupuk Subsidi Langsung ke Petani. Keuntungan dari penerapan subsidi pupuk langsung ke petani adalah : (1) terhapusnya disparitas harga pupuk di semua Lini, karena semua transaksi jual-beli pupuk menggunakan harga non-subsidi; (2) petani dapat menerima dana subsidi pupuk secara langsung; (3) menumbuh-kembangkan kelembagaan petani terutama Kelompok Tani dan Gapoktan.
Dalam konsep rancangan verifikasi tersebut menghasilkan beberapa alternatif yaitu : (1) Alternatif 1 : Perbaikan kelompok sasaran, RDKK dan pengawasan, (2) Alternatif 2 : Alternatif 1 + modifikasi mekanisme pemberian subsidi di tingkat penyalur, (3) Alternatif 3 : Alternatif 1 + subsidi pupuk langsung kepada petani. Verifikasi Pupuk Subsidi Langsung Ke Petani di 10 propinsi (Sulsel, Sumsel, Riau Jatim, Jateng, Jabar, Bali, Sumut, DIY dan Kalsel menyepakati bahwa 6 (enam) provinsi memilih Alternatif 3 (sistem kelembagaan yang handal pada KT/Gapoktan dari aspek permodalan dan kompetensi SDM) sedangkan 4 (empat) provinsi lainnya memilih Alternatif 1 (penekanan perbaikan RDKK). Dinas Pertanian, produsen dan penyalur cenderung memilih Alternatif 1.
Hasil verifikasi rancangan yang dilaksanakan Dirat. Perbenihan dan Sarana Produksi, Ditjen. Perkebunan di Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur yang dihadiri oleh Dinas yang membidangi Pertanian Provinsi se- Jawa Timur dan Dinas yang membidangi Pertanian seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur, Pemprov, Pemkab, KTNA, Petugas Penyuluh, LSM dan Gapoktan dan hasil tanggapan terhadap Gapoktan di Kabupaten Nganjuk, menunjukkan bahwa rencana pelaksanaan uji coba pupuk subsidi langsung ke petani dalam jangka pendek memilih : Alternatif 1 berupa perbaikan RDKK melalui penyempurnaan database status dan luas lahan petani seluruh sub sektor yang berhak mendapatkan subsidi pupuk, disertai dengan pengawasan yang ketat terhadap penyaluran pupuk mulai dari produsen, Kios (Lini-IV), dan Kelompok Tani.
Sebelum diterapkan, perlu dilakukan uji coba mekanisme tersebut secara konkrit di lapangan. Hasil uji coba ini akan menjadi dasar perumusan mekanisme subsidi pupuk pada tahun-tahun mendatang. Dalam pelaksanaan uji coba dimaksud, beliau menekankan perlunya : data petani dan kelompok tani (KT) dengan lebih akurat dan peran kelembagaan petani (KT/Gapoktan) dan organisasi petani serta pendampingan dan pengawasan berbagai komponen. Uji coba tersebut akan diawasi secara langsung oleh Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4).
Tahapan penyaluran subsidi pupuk langsung ke petani berupa sbb : (1) Penyusunan RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) dilakukan oleh Kelompok Tani dengan bimbingan Petugas Penyuluh, Kantor Cabang Dinas (KCD) dan Desa, (2) Verifikasi dan pengesahan Rekapitulasi RDKK secara bertingkat, mulai dari Kepala Desa, Camat/KCD, Bupati/Kepala Dinas Pertanian Kabupaten. Kemudian, Rekapitulasi RDKK disampaikan kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)/Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), (3) Ketua Kelompok Tani membuka rekening kelompok di Bank BRI, (4). Petani/anggota kelompok tani membeli pupuk di kios Penyalur pupuk dengan harga pasar dan menerima Bukti Pembelian Pupuk, (5). Petani/ anggota kelompok tani menagih subsidi ke pengurus Kelompok Tani yang bersangkutan untuk dapat dibayarkan.
Rancangan pelaksanaan uji coba pupuk subsidi langsung ke petani ini akan dilakukan di lokasi sentra padi Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Rancangan tersebut telah disusun dengan melibatkan setiap subsektor. Pelaksanaan uji coba dimaksud direncanakan pada musim tanam (MT) yang diperkirakan sekitar minggu ke-4 September 2010.
Sumber: Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi
PERKENALKAN: PUPUK HAYATI BioTRIBA (BT2) NEW GENERATION

Kami memperkenalkan produk baru kami, yakni BT 2 (Bio Triba) generasi terbaru. Produk ini merupakan penyempurnaan dari yang sudah ada. Tentu ini layak Anda coba, khususnya bagi peminat pertanian organic.
BioTRIBA BT2, generasi baru adalah pupuk hayati yang mengandung 5 macam species mikroorganisme PGPM (Plant Growth-Promoting Micrrooganism) dan indegenius (asli Indonesia) terseleksi dan telah diuji keandalannya baik di laborotarium dan lapang melalui penelitian selama bertahun-tahun.
Sumber: http://biofob.blogspot.com/
Mikroba yang terkandung dalam formula BioTRIBA BT2 secara senergi dapat menyediakan unsur hara terutama N, P dan hormone pemacu tumbuh.
Disamping itu mikroba sellulotik dapat mengurai bahan oganik sehingga menjamin ketersediaan unsur hara mikro yang sangat diperlukan tanaman dalam proses metabolism serta menghasil senyawa antibiotik yang dapat mengendalikan patogen penyakit dalam tanah.
Kedasyatan BioTRIBA BT2
Nitrogen (N2) cukup tersedia di udara (± 70%) tetapi tidak dapat dimanfaatkan oleh tanam Namun dengan bantuan BioTRIBA BT2, Nitrogen (N2) diudara di fiksasi menjadi NH3, sehingga dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman.
Ketersediaan P dalam tanah sangat rendah karena karena terikat oleh mineral tanah. BioTRIBA mengandung bakteri pelarut P yang telah teruji, meningkatkan asam organik, meningkatkan ketersediaan P dan efisiensi penggunaan pupuk fospat (P).
Disamping itu, pemberiaan BioTRIBA BT2 sebagai pupuk hayati akan meningkatkan populasi mikroorganisme pelarut P dan penambat N, akan meningkatkan produktivitas tanaman, sehingga pemupukan akan lebih murah dan efisien. BioTRIBA BT2 mengandung mikroorganisme yang memproduksi senyawa antibiotic yang dapat mengendalikan patogen penyakit dan menginduksi ketahanan tanaman.
Dari aplikasi di lapangan terbukti BioTRIBA dapat menghemat penggunaan pupuk kimia 25% - 50% dan ramah lingkungan. BioTRIBA dapat mengendalikan patogen penyakit dan meningkatkan kesehatan tanaman dan kwaltas roduksi. Serta menghasilkan hormone tumbuh yang dapat mempercepat pertumbuhan tanaman. Disamping itu penggunaan BioTRIBA BT2 dapat memproleh pupuk N gratis dari udara dan P didalam tanah. Dan BioTRIBA dapat digunakan untuk tanaman perkebunan, pangan dan hortikltura.
Cara Penggunaan
Pada Persiapan tanam BioTRIBA BT2 dapat disemprotkan pada lahan atau pada lubang tanam 3 – 4 liter/Ha, dengan kosentrasi 10 ml/l, 4 – 7 hari sebelum tanam. Untuk Pembibitan BioTRIBA BT2 disemprotkan/disiramkan pada media tanaman dalam polybag dengan dosis 10 – 20 ml/L sebelum penanaman. Kemudian aplikasi pupuk hayati BioTRIBA BT2 sebulan sekali.
Untuk pertanaman dilapangan aplikasi dlakukan dengan cara menyemprot pangkal batang tanaman dengan dosis 3 – 4 liter/ha dengan kosentrasi 10 ml/l. Dapat diulangi setiap 1 bulan untuk tanaman semusim dan 3 – 4 bulan untuk tanaman tahunan (Cengkeh karet,kakao dan sawit).
BioTRIBA dapat di kombinasikan pupuk kimia dengan pemberian 10 – 20 ml/l yaitu 4 – 7 hari setelah aplikasi pupuk kimia untuk memudahkan tanaman menyerap hara yang diberikan. Dianjurkan agar dosis penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi secara bertahap mulai dari 25% dari dosis anjuran.
PEMANFAATAN PESTISIDA DENGAN BIJAKSANA
Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana sangat merugikan bagi manusia dan lingkungan, dalam pengendalian hama terpadu (PHT) pemanfaatannya merupakan pilihan terakhir apabila dengan teknologi pengendalian lain tidak dapat menekan serangan OPT. Kondisi di lapangan sedikit sekali yang melaksanakan pemakaian pestisida dengan kriteria 6 tepat (tepat waktu, jenis tanaman, jumlah/dosis, sasaran/OPT aplikasi, tempat dan alat).
Beberapa hal yang perlu diketahui dalam pemanfaatan pestisida sebagai berikut :
1. Penggunaan pestisida dengan benar antara lain:
a. periksa masa berlakunya masih memenuhi syarat, juga kemasannya;
b. sesuai rekomendasi/yang diijinkan atau petunjuk penggunaan dari produsennya (sesuai label);
c. mengikuti parameter (kriteria 6 tepat, syarat, variable) aplikasi sesuai dengan metode aplikasi yang digunakan;
d. pestisida mampu menampilkan efikasi biologisnya secara optimal/efektif pada OPT sasaran dengan tidak menimbulkan kematian pada musuh alaminya.
2. Tolok ukur penyemprotan (bila diaplikasikan dengan penyemprotan) yang benar adalah:
a. ukuran butiran semprot (droplet size);
b. liputan yaitu jumlah butiran semprot yang menempel pada bidang sasaran;
c. distribusi semprot (vertikal dan horizontal);
d. recovery yaitu perbandingan liputan dengan dosis. Salah satu hal yang penting pada penyemprotan adalah recovery penyemprotan yang tinggi, kehilangan minimal dan deposit maksimal.
3. Ukuran butiran semprot optimal sangat dipengaruhi ukuran droplet yang digunakan, makin halus droplet keberhasilan penyemprotan cenderung semakin meningkat, namun ada sisi negatif yaitu drift/penguapan yang tinggi sehingga sangat membahayakan bagi pengguna dan lingkungan. Rekomendasi ukuran droplet insektisida dan fungisida 200-400 mikron.
4. Beberapa contoh tipe nozzle/mulut penyemprot antara lain :
a. nozzle kerucut karakter dropletnya halus untuk insektisida dan fungisida;
b. nozzle kipas dropletnya sedang untuk insektisida, fungisida dan herbisida;
c. nozzle rata karakter dropletnya sedang untuk herbisida;
d. nozzle senapan karakter dropletnya halus untuk insektisida dan fungisida
5. Faktor yang mempengaruhi kehilangan larutan semprot antara lain :
a. ukuran droplet;
b. jenis bidang sasaran misalnya daun mengandung lilin/daun tegak;
c. umur tanaman;
d. jarak tanaman;
e. cuaca (hujan/angin, drift/penguapan);
f. alat semprot.
6. Upaya untuk mengurangi kehilangan larutan semprot antara lain :
a. gunakan nozzle tepat dengan ukuran droplet sedang;
b. sprayer yang tepat, tidak menggunakan power sprayer ketika tanaman masih kecil;
c. jarak tanaman ke nozzle tepat, untuk sprayer punggung 30-50 cm;
d. volume semprot tidak berlebihan (optimal 400-600 liter/hektar untuk tanaman semusim);
e. perhatikan cuaca.
7. Gunakan pergiliran pestisida dengan merk dan kelas bahan kimia berbeda, campuran pestisida dapat dilakukan namun dengan campuran yang tepat dan takaran /dosis yang tepat dapat menunda/ memecahkan resistensi, namun bila tidak tepat akan menimbulkan multiple resistensi/resistensi ganda. Sebaliknya, apabila tidak memahami karakteristik bahan kimia pencampuran penggunaan pestisida.
8. Jangan menambah atau mengurangi takaran/dosis, menambah dosis akan meningkatkan tekanan seleksi akan boros, sebaliknya mengurangi dosis akan mendorong toleransi OPT terhadap pestisida (Sumber : Majalah triwulan Benih Bersemi, DIY)
Beberapa hal yang perlu diketahui dalam pemanfaatan pestisida sebagai berikut :
1. Penggunaan pestisida dengan benar antara lain:
a. periksa masa berlakunya masih memenuhi syarat, juga kemasannya;
b. sesuai rekomendasi/yang diijinkan atau petunjuk penggunaan dari produsennya (sesuai label);
c. mengikuti parameter (kriteria 6 tepat, syarat, variable) aplikasi sesuai dengan metode aplikasi yang digunakan;
d. pestisida mampu menampilkan efikasi biologisnya secara optimal/efektif pada OPT sasaran dengan tidak menimbulkan kematian pada musuh alaminya.
2. Tolok ukur penyemprotan (bila diaplikasikan dengan penyemprotan) yang benar adalah:
a. ukuran butiran semprot (droplet size);
b. liputan yaitu jumlah butiran semprot yang menempel pada bidang sasaran;
c. distribusi semprot (vertikal dan horizontal);
d. recovery yaitu perbandingan liputan dengan dosis. Salah satu hal yang penting pada penyemprotan adalah recovery penyemprotan yang tinggi, kehilangan minimal dan deposit maksimal.
3. Ukuran butiran semprot optimal sangat dipengaruhi ukuran droplet yang digunakan, makin halus droplet keberhasilan penyemprotan cenderung semakin meningkat, namun ada sisi negatif yaitu drift/penguapan yang tinggi sehingga sangat membahayakan bagi pengguna dan lingkungan. Rekomendasi ukuran droplet insektisida dan fungisida 200-400 mikron.
4. Beberapa contoh tipe nozzle/mulut penyemprot antara lain :
a. nozzle kerucut karakter dropletnya halus untuk insektisida dan fungisida;
b. nozzle kipas dropletnya sedang untuk insektisida, fungisida dan herbisida;
c. nozzle rata karakter dropletnya sedang untuk herbisida;
d. nozzle senapan karakter dropletnya halus untuk insektisida dan fungisida
5. Faktor yang mempengaruhi kehilangan larutan semprot antara lain :
a. ukuran droplet;
b. jenis bidang sasaran misalnya daun mengandung lilin/daun tegak;
c. umur tanaman;
d. jarak tanaman;
e. cuaca (hujan/angin, drift/penguapan);
f. alat semprot.
6. Upaya untuk mengurangi kehilangan larutan semprot antara lain :
a. gunakan nozzle tepat dengan ukuran droplet sedang;
b. sprayer yang tepat, tidak menggunakan power sprayer ketika tanaman masih kecil;
c. jarak tanaman ke nozzle tepat, untuk sprayer punggung 30-50 cm;
d. volume semprot tidak berlebihan (optimal 400-600 liter/hektar untuk tanaman semusim);
e. perhatikan cuaca.
7. Gunakan pergiliran pestisida dengan merk dan kelas bahan kimia berbeda, campuran pestisida dapat dilakukan namun dengan campuran yang tepat dan takaran /dosis yang tepat dapat menunda/ memecahkan resistensi, namun bila tidak tepat akan menimbulkan multiple resistensi/resistensi ganda. Sebaliknya, apabila tidak memahami karakteristik bahan kimia pencampuran penggunaan pestisida.
8. Jangan menambah atau mengurangi takaran/dosis, menambah dosis akan meningkatkan tekanan seleksi akan boros, sebaliknya mengurangi dosis akan mendorong toleransi OPT terhadap pestisida (Sumber : Majalah triwulan Benih Bersemi, DIY)
APAKAH PUPUK ORGANIK BERDAMPAK SIGNIFIKAN?
Pengaruh penggunaan pupuk organik/blotong di salah satu PG di Jawa Tengah terhadap produktivitas tebu sekitar 695 kwintal/ha dengan rata-rata rendeman 8,6 %. Pupuk organik tersebut mempunyai peran yang sama dengan pupuk an-organik sebagai pupuk dasar.
Hasil penelitian di Riau menunjukkan bahwa aplikasi 40 ton TKS/ha pada tanah ditambah aplikasi pupuk N dan P sebesar 60% dosis standar kebun mampu meningkatkan produksi hingga 34% dibanding pemakaian pupuk anorganik dengan dosis standar kebun (Siahaan et al. 1997). Hal tersebut berarti terdapat pengurangan pupuk N dan P hingga 40% tanpa aplikasi pupuk K.
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa pupuk organik berdampak sangat signifikan bagi tanaman dan dapat digunakan untuk mengurangi penggunana pupuk anorganik.
Hasil penelitian di Riau menunjukkan bahwa aplikasi 40 ton TKS/ha pada tanah ditambah aplikasi pupuk N dan P sebesar 60% dosis standar kebun mampu meningkatkan produksi hingga 34% dibanding pemakaian pupuk anorganik dengan dosis standar kebun (Siahaan et al. 1997). Hal tersebut berarti terdapat pengurangan pupuk N dan P hingga 40% tanpa aplikasi pupuk K.
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa pupuk organik berdampak sangat signifikan bagi tanaman dan dapat digunakan untuk mengurangi penggunana pupuk anorganik.
TEKNIK PEMBUATAN PUPUK KOMPOS
Teknik pembuatan kompos Bio-TRIBA secara prinsif tidak jauh berbeda cara-cara kompos yang lain :
1. Bahan yang dapat digunakan al : pupuk kandang, jerami, arang sekam, dedak, serbuk gergaji, cocopit residu tanaman, limbah pasar , limbah rumah tangga dan limbah organic lainnya.
2. Bahan tersebut dihaluskan/dicacah dengan mesin kompos atau alat lainnya yang tersedia dikebun seperti parang parang terutama bahan tanaman seperti jerami, residu tanaman.
3. Setelah dihaluskan bahan tersebut ditumpuk secara beraturan contoh, jerami + serbuk gergaji + residu tanaman + kotoran hewan. Setelah tumpukan itu mencapai 25 – 30 cm selanjutnya disiram dengan larutan BioTRIBA. Diatas tumpukan tadi selanjutnya disusun lagi setinggi 25 – 30 cm dan disiram lagi dengan BioTRIBA, sampai mencapai ketinggiaan 1 – 1,2 m, kemudiaan ditutup dengan terpal atau sejenisnya.
4. Jumlah BioTRIBA yang digunakan ádalah 2 – 3 l/ton bahan mentah yang akan dikomposkan Untuk memperoleh larutan Bio-TRIBA maka BioTRIBA yang terdapat dalam botol/kemasan + air dicampur merata dosis 10 – 50 ml/l (tergantung pada kadar air bahan yang digunakan), makin basah bahan yang akan digunakan maka dosis yang digunakan makin tinggi atau jumlah air yang digunakan sebagai bahan pencampur lebih sedikit.
5. Bahan baku yang telah tersedia disiram larutan larutan BioTRIBA. Pencampuran dilakukan perlahan-lahan dan merata hingga kandungan air ± 30-40 %. Kandungan air yang diinginkan diuji dengan menggenggam bahan. Kandungan air 30-40 % ditandai dengan tidak menetesnya air bila bahan digenggam dan akan mekar bila genggaman dilepaskan.
6. Bahan yang telah dicampur tersebut diletakkan di atas tempat yang kering atau dapat juga dimasukkan ke dalam ember atau karung. Bila diletakkan di lantai, bahan sebaiknya ditumpuk secara teratur. Tumpukan bahan umumnya dapat setinggi 1 - 1,2 m. Setelah itu, tumpukan bahan ditutup dengan plastic, karung goni atau terpal.
7. Suhu tumpukan secara bertahap akan meningkat dari 25 C, 30C, 40C sampai mencapai 50 – 60 C proses ini berlangsung selama 5 – 8 hari ( tergantung tinggi tumpukan dan kehalusan bahan).
8. Selanjutnya secara bertahap suhu akan turun kembali sampai mencapai normal. Apabila suhu sudah stabil( berkisar 25 – 30 C), maka proses pengomposan telah selesai Lama proses fermentasi ini berlangsung tergantung bahan yang digunakan yaitu berkisar 1 – 3 minggu.
9. Setelah bahan menjadi kompos, maka penutup seperti plastic, terpal, karung goni dapat dibuka. Pupuk oraganikTRIBA ini dicirikan dengan warna hitam, gembur, tidak panas dan tidak berbau. Dalam kondisi seperti itu, kompos BioTRIBA telah dapat digunakan sebagai pupuk.
1. Bahan yang dapat digunakan al : pupuk kandang, jerami, arang sekam, dedak, serbuk gergaji, cocopit residu tanaman, limbah pasar , limbah rumah tangga dan limbah organic lainnya.
2. Bahan tersebut dihaluskan/dicacah dengan mesin kompos atau alat lainnya yang tersedia dikebun seperti parang parang terutama bahan tanaman seperti jerami, residu tanaman.
3. Setelah dihaluskan bahan tersebut ditumpuk secara beraturan contoh, jerami + serbuk gergaji + residu tanaman + kotoran hewan. Setelah tumpukan itu mencapai 25 – 30 cm selanjutnya disiram dengan larutan BioTRIBA. Diatas tumpukan tadi selanjutnya disusun lagi setinggi 25 – 30 cm dan disiram lagi dengan BioTRIBA, sampai mencapai ketinggiaan 1 – 1,2 m, kemudiaan ditutup dengan terpal atau sejenisnya.
4. Jumlah BioTRIBA yang digunakan ádalah 2 – 3 l/ton bahan mentah yang akan dikomposkan Untuk memperoleh larutan Bio-TRIBA maka BioTRIBA yang terdapat dalam botol/kemasan + air dicampur merata dosis 10 – 50 ml/l (tergantung pada kadar air bahan yang digunakan), makin basah bahan yang akan digunakan maka dosis yang digunakan makin tinggi atau jumlah air yang digunakan sebagai bahan pencampur lebih sedikit.
5. Bahan baku yang telah tersedia disiram larutan larutan BioTRIBA. Pencampuran dilakukan perlahan-lahan dan merata hingga kandungan air ± 30-40 %. Kandungan air yang diinginkan diuji dengan menggenggam bahan. Kandungan air 30-40 % ditandai dengan tidak menetesnya air bila bahan digenggam dan akan mekar bila genggaman dilepaskan.
6. Bahan yang telah dicampur tersebut diletakkan di atas tempat yang kering atau dapat juga dimasukkan ke dalam ember atau karung. Bila diletakkan di lantai, bahan sebaiknya ditumpuk secara teratur. Tumpukan bahan umumnya dapat setinggi 1 - 1,2 m. Setelah itu, tumpukan bahan ditutup dengan plastic, karung goni atau terpal.
7. Suhu tumpukan secara bertahap akan meningkat dari 25 C, 30C, 40C sampai mencapai 50 – 60 C proses ini berlangsung selama 5 – 8 hari ( tergantung tinggi tumpukan dan kehalusan bahan).
8. Selanjutnya secara bertahap suhu akan turun kembali sampai mencapai normal. Apabila suhu sudah stabil( berkisar 25 – 30 C), maka proses pengomposan telah selesai Lama proses fermentasi ini berlangsung tergantung bahan yang digunakan yaitu berkisar 1 – 3 minggu.
9. Setelah bahan menjadi kompos, maka penutup seperti plastic, terpal, karung goni dapat dibuka. Pupuk oraganikTRIBA ini dicirikan dengan warna hitam, gembur, tidak panas dan tidak berbau. Dalam kondisi seperti itu, kompos BioTRIBA telah dapat digunakan sebagai pupuk.
BEBERAPA KENDALA PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK DI LAPANGAN

Ada berapa masalah terkait dengan penyediaan pupuk organik
Pertama, Kadar haranya rendah sehingga bulky dan jika diaplikasikan memerlukan biaya transport yang cukup tinggi.. Oleh karena itu pupuk organik perlu dikembangkan di berbagai daerah sehingga biaya distribusinya dapat ditekan.
Kedua, sehubungan dengan sifatnya bulky perlu dilakukan riset-riset menuju riset nano-technology sehingga mengarahkan pada . pemberian pupuk organik dalam volume yang tidak bulky . seperti asam humat dan asam fulvat dan lain-lain.
Ketiga, butir yang penting dari istilah komplementer pupuk organik dengan pupuk anorganik adalah bagaimana peranan pupuk organik dalam meningkatkan efektivitas hara anorganik. Keduanya dibutuhkan, perbandingan tergantung kondis i tanah dan kebutuhan tanaman dalam prinsip "pupuk berimbang plus" yang berarti tidak hanya dalam hal hara, tertapi juga dalam kadar C organik tanah.
Kelemahan atau kekurangan unsur hara pupuk organik untuk penggunaan spesifik pertanian organik, jangan sampai menjadi preseden untuk menambahkan mineral anorganik dan, sebagainya.
Hal ini tentu perlu menjadi perhatian bagi para produsen benih terkait adanya masalah tersebut. Sehingga keualitas pupuk organic ke depan dapat ditingkatkan.
PEMUPUKAN KELAPA SAWIT

Upaya peningkatan produksi dan mutu TBS dipengaruhi oleh kandungan hara dalam tanaman. Tinggi rendahnya kandungan hara akan menentukan tingkat optimum pertumbuhan dan produksi tanaman. Untuk mengetahui jumlah kebutuhan penggunaan pupuk, umumnya dilakukan analisa tanah dan daun.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan/aplikasi pemupukan pada pertanaman kelapa sawit mempunyai kontribusi terhadap emisi Gas Rumah Kaca (GHG). Menurut IPCC National Greenhouse Gas, bahwa 1 % dari pemupukan N hilang sebagai N2O, bahkan 4 %.
Serapan hara nitrogen oleh tanaman sawit yang tumbuh pada tanah mineral masam Bengkulu mendekati kisaran kandungan hara yang dapat memberikan hasil yang optimum tandan buah sawit (TBS). Tetapi serapan hara fosfor dan kalium berada pada kisaran defisiensi sehingga hasil TBS pada tanah mineral masam Bengkulu masih rendah. Serapan hara nitrogen sebesar 2.45%, fosfor sebesar 0.17% , dan kalium sebesar 0.0168%.
Pada tanah mineral masam, 1 ton TBS mempunyai kandungan N = 1,05 kg, P = 0,06 kg dan K = 0,01 kg (Penelitian dari Universitas Bengkulu). Sedangkan menurut PPKS 1 ton TBS, kandungan N = 2,9 kg sedangkan 1 ton Tandan Kosong Sawit (TKS) mengandung N= 1,4 kg N.
Aplikasi pupuk sangat diperlukan mengingat 1 ton tandan buah segar (TBS) kurang lebih setara dengan 6,3 kg urea (±2,9 kg N), 2,1 kg TSP, 7,3 kg MoP, dan 4,9 kg kiserit (Rahutomo et al, 2006).
[Dosis Pemupukan Kelapa Sawit]
Sumber: Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Perkebunan
Langganan:
Postingan (Atom)